by

Serobot Lahan, Keluarga Pariama Bakal Diseret ke Polisi

AMBON-BKA, M. Tahapary, salah satu guru di kota Ambon, akan melakukan upaya hukum terhadap keluarga J Pariama, atas kasus dugaan penyerobotan lahan di Kawasan Halong Tanah Merah, Kecamatan Baguala, Kota Ambon.

Kepada media ini, pemilik lahan M. Tahapary mengatakan, lahan miliknya yang berada di Kawasan Halong Tanah Merah, berdasarkan alas hak seluas 360 meter. Kemudian dari 360 meter itu sudah bersertifikat 250 meter, sedangkan tersisa 110 meter belum bersertifikat.
Dari sisa 110 meter ini, ia kemudian mengusulkan ke Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Ambon untuk dilakukan pengukuran, penambahan sertifikat seluas 110 meter dari total 360 meter berdasarkan alas hak yang dimilikinya itu.

“Hanya saja, pada saat dilakukan pengukuran oleh BPN, keluarga Pariama tidak mau ambil baik. Mereka bilang lahan itu bukan milik lahan keluarga Tahapary, tapi sudah milik keluarga Pariama,” ujar M. Tahapary, saat mendatangi redaksi Beritakota Ambon, Rabu (4/8).

Baca juga: Polisi Musnahkan 25 Bak Rendaman Emas Ilegal

Tahapary mengaku, keluarga Pariama sebenarnya mempunyai lahan namun sudah digunakan untuk membangun jalan.lahan tersebut berbatasan dengan lahan milik keluarga Tahapary.
“Dan itu pun sudah dibayarkan pemerintah terhadap keluarga Pariama dan tiga keluarga lain yang lahannya digunakan untuk jalan pemerintah. Tapi tidak tahu mengapa, dia (keluarga Pariaman) kembali serobot lahan saya,” kesalnya.

Tidak hanya itu, lanjut dia, keluarga Pariama juga telah membangun sebuah bangunan kos-kosan di atas lahan milik keluarga Tahapary dari sisa lahan 110 meter yang belum bersertifikat tersebut.

“Jadi, pada saat itu saya cek ada surat-surat tanah alias hitam di atas putih tidak, mereka bilang tidak ada. Mereka beralasan bahwa tanah itu diberi dari alm ayah saya. Padahal saya cek semua itu, tidak pernah ayah saya berikan tanah kepada mereka,” jelasnya.
Wanita berumur 37 tahun ini melanjutkan, akibat dari perbuatan keluarga Pariama, pihak BPN kota Ambon sampai kini belum melakukan pengukuran untuk menambahan sertifikat dari seluasnya lahan 360 meter dimaksud.

“Tidak hanya mereka keberatan, bahkan, ada bahasa dari mereka bahwa lahan tersebut bukan milik keluarga Tahapary namun milik keluarga Manuputy. Padahal mereka sendiri mengakui bahwa bagunan kos-kosan itu mereka dapat ijin membangun dari Alm ayah saya, dari keluarga Tahapary,”kesalnya.

Baca juga: Menunggu “Hukuman” Seharga Dua Triliun

Untuk itu,tambah dia, terhadap langkah ke depan, jika sudah selesai pengukuran di atas tersebut dan sudah ada sertifikat tanah dari BPN, barulah dirinya melaporkan keluarga Pariama ke pihak yang berwajid terkait tindak pidana penyerobotan lahan.

Bukan hanya itu, dia juga akan melaporkan Saniri Desa Halong ke Polda Maluku terkait kasus pencemaran nama baik.

“Dalam waktu dekat, saya juga akan melaporkan Saniri Desa Halong ke Polda Maluku, karena beliau bilang saya ini lakukan pemalsuan tandatangan pejabat desa untuk meloloskan berkas-berkas tanah ke BPN,” tandasnya. (SAD)

Comment