by

Setahun Lebih Masih Trauma, Pengungsi Gempa 2019 Enggan Bermalam di Rumah

Ambon, BKA- Kendati telah berlalu setahun lebih, namun masih banyak warga Kota Ambon yang trauma. Bahkan hingga sekarang masih ada sejumlah warga yang berdiam dipengungsian.

Memang gempa bumi yang berkekuatankekuatan M 6,5 yang disusul dengan ribuan gempa lanjutan selama beberapa bulan, telah menciutkan nyali. Sejumlah nyawa melayang. Banyak rumah dan gedung perkantoran yang rusak.

Perlahan kondisi mulai membaik dari gempa bumi itu. Namun masih ada sejumlah masyarakat yang tinggal di lokasi pengungsian, seperti, yang terlihat di Belakang Asrama Brimob Air Besar, Desa Passo, Kecamatan Teluk Ambon.

Warga yang masih bertahan di lokasi pengungsian itu berasal dari Negeri Passo dan Desa Negeri Lama, yang enggan kembali ke rumah akibat trauma yang cukup dalam. Padahal kondisi rumah mereka tidak cukup parah terdampak gempa.

“Kita sampai saat ini, hampir setiap malam masih tidur di tenda pengungsi. Bukan karena rumah kami rusak, tapi takut kalau tidur terlalu nyenyak. Nanti terjadi sesuatu, kita tidak tahu, lalu terlambat efakuasi diri,” ungkap Nona de kock, salah satu pengungsi, Kamis (14/1).

Menurutnya, trauma yang melanda dirinya maupun sejumlah warga yang masih berada di lokasi pengungsian, patut dipahami. Mengingat peristiwa gempa September 2019 lalu berlangsung kurang lebih satu bulan, sehingga kecemasan serta labilnya kejiawaan masyarakat tidak dapat dipulihkan secara instan.

Lanjutnya, jumlah warga yang masih bertahan di lokasi pengungsian di Belakang Asrama Brimob Air Besar-Passo, jumlah berkisar puluhan kepala keluarga. Terdiri dari anak-anak, perempuan dan para lansia. Sementara untuk kaum laki-laki, hanya sebagian kecil yang ikut bermalam di lokasi pengungsian, sekaligus bertugas mengawasi lingkungan pengungsi.

“Kita masih cukup banyak yang setiap malamnya memilih untuk tetap tidur di tenda pengungsi. Apalagi anak-anak dan orang tua. Tetapi untuk aktifitas setiap hari, warga di tenda pengungsian dari pagi hingga sore turun ke tempat tinggal atau rumah mereka masing-masing, baik untuk bekerja maupun aktivitas lainnya. Dan akan kembali ke tenda pada waktu malam,” ucapnnya.

Karena itu, dia berharap, pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap trauma yang dirasakan oleh masyarakat. Karena gangguang psikologis tentu sangat sulit disembuhkan. Apalagi hingga saat masih banyak warga yang belum diberikan bantuan renovasi rumah akibat gempa pada September 2019 lalu, sehingga masyarakat merasa tidak nyaman untuk bermalam di dalam rumah yang masih dalam kondisi rusak. Padahal pemerintah melalui RT telah melakukan pengambilan data kerusakan rumah, baik rusak ringan maupun rusak berat. Naasnya hingga saat ini belum terealisasi secara tuntas. (BKA-4)

Comment