by

Setubuhi Anak Tiri Berulang, Kukung Diringkus

Ambon, BKA- Bejat, itu kata yang cocok untuk mendefinisikan perbuatan yang dilakukan L.A.R alias Bapa Kukung, Warga Desa Waesala, Kecamatan Huamual Belakang, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB).

Dia secara berulang, sejak Juni 2018 hingga Desember 2020, menyetubuhi anak tirinya yang masih di bawah umur.
Namun aksi bejat ayah tiri itu akhirnya berakhir, saat dia dibekuk aparat Polres SBB berdasarkan Laporan Polisi Nomor: LP-B/03/I/Maluku/Res SBB, tanggal 6 Januari 2021.
Kasat Reskrim Polres SBB, AKP Pieter F. Matahelumual, mengatakan, pelaku saat ini telah diringkus dan ditetapkan sebagai tersangka.

Aksi bejat Bapa Kukung yang terjadi secara berulang kali itu dilakukan pada sejumlah tempat berbeda. Pertama di Walang Sopi (minuman keras, red), rumah tersangka dan Kebun Pala yang berada di Dusun Taman Sejarah Desa Waesala.
“Peristiwa ini terjadi sejak bulan Juni 2018 sampai Desember 2020, yang dilakukan secara berulang-kali,” ungkap Matahelumual, Senin (25/1).

Setiap kali selesai melancarkan aksi bejat terhadap anak tirinya, Bapa Kukung selalu memberikan uang kepada anak tirinya itu. Jumlahnya bervariasi, Rp 2 ribu, Rp 20 ribu, Rp 50 ribu, hingga 500 ribu.

Bukan hanya uang, tersangka juga sering membelikan baju kepada korban, yang diselingi dengan ancaman agar tidak memberitakan aksi bejat itu kepada siapa pun.

“Saat itu, korban ke tempat Walang masak Sopi milik tersangka,tak tahu mengapa, korban dipaksa menjadi pelampiaskan napsu birahi tersangka. Setelah itu, tersangka kerap memberikan uang kepada korban sebagai modus agar tidak memberitahukan hal tersebut,” terang Matahelumual.

Akhirnya petualangan bejat sang ayah tiri itu diketahui oleh kakak korban, yang kemudian melaporkannya ke ibu mereka.

Tidak terima, ibu korban kemudian melaporkan perbuatan bejat suaminya kepada pihak kepolisian, untuk segera ditindaklanjuti secara hukum.

“Kasus ini diketahui kakak korban saat membuka messenger HP milik korban. Karena tak terima, kakak korban kemudian melaporkan hal ini ke ibu korban. Ibu korban mendengarkan peristiwa itu naik pitam, kemudian melaporkan ke pihak kepolisian untuk diproses sesuai hukum yang berlaku,” ungkap Matahelumual.

Terkait aksi itu, tersangka karena melanggar pasal 81 ayat (1), jo pasal 76D dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 17 tahun 2016, tentang penetapan Perpu Nomor 01 tahun 2016, tentang perubahan kedua atas Undang-Undang RI Nomor 35 tahun 2014, tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak menjadi Undang-Undang, Jo Pasal 64 ayat 1 KUHPidana.
(SAD)

Comment