by

Sidang Lanjutan Korupsi Dana BOS SMP 8 Leihitu

Saksi Beberkan Siswa Pernah Belajar di Lantai

Ambon, BKA- Sidang lanjutan kasus dugaan korupsi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) SMP Negeri 8 Leihitu kembali digelar di Pengadilan Tipikor Ambon, Kamis (10/12).

Pada sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim, Ahmad Ukayat, dibantu Hery Liliantoro dan Cristina Tetelepta selaku Hakim Anggota tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Ambon kembali menghadirkan lima saksi memberatkan bagi terdakwa Sobo Makatita, yang didampingi Akbar Samalpessy selaku penasehat hukum.

Lima saksi itu, yakni, Fitria, Jalil Uweng, Saman Makatita, Kandi Pargono dan Ida Rosida, yang semuanya merupakan guru pada sekolah tersebut.

Saksi Fitria, mengungkapkan, pernah siswa-siswi SMP Negeri 8 Leihitu melakukan proses belajar mengajar di lantai ruangan kelas. Karena sewaktu terdakwa Sobo Makatita menjabat sebagai Kepala Sekolah di sekolah tersebut, tidak ada pengadaan meja dan kursi untuk menunjang proses belajar mengajar.

“Jadi tidak ada meja kursi saat itu. Kita mengajarnya di lantai di ruang kelas saja. Hal ini terjadi pada dua tahun terakhir, semasa terdakwa menjabat selaku Kepala Sekolah,” ungkap Fitria, yang merupakan guru PNS pada SMP Negeri 8 Leihitu.

Selain itu, empat saksi lainnya mengungkapkan, memang untuk pengelolaan dana di sekolah tersebut pada masa kepemimpinan terdakwa Sobo Makatita, sama sekali tidak ada keterbukaan bagi dewan guru. Misalnya dalam penggunaan dan mengelolaan dana BOS, dana DAK dan Bansos.

“Jadi memang tidak ada keterbukaan yang dilakukan terdakwa bagi kami di sekolah. Semua dana-dana itu misalnya BOS, DAK dan Bansos, terdakwa kelola secara sendiri-sendiri,” ungkap mereka.

Selain itu, sesuai bukti yang ada di berkas perkara, tandatangan para saksi yang merupakan dewan guru, itu tidak benar. Semuanya dipalsukan oleh terdakwa untuk melakukan pencairan anggaran, sesuai yang terterah dalam kwitansi.

”Ada beberapa kwitansi tanda terima yang dipalsukan terdakwa. nilainya bervariasi. Yakni tenaga honor pun tidak pernah menerima uang yang ada dalam bukti kwitansi. Biasanya yang diterima itu Rp 350 ribu, namun dalam kwitansi Rp 400 ribu. Biasanya dipotong juga. Kadang dalam satu tahun diberikan beberapa kali saja, tapi dalam laporan pertanggungjawaban tiap bulan diberikan kepada guru honorer tersebut,” jelas para saksi, ketika dicecar JPU Enang Anakoda.

Sebelumnya, kejahatan mantan Kepala SMP Negeri 8 Leihitu, Sobo Makatita (59) dibeberkan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Ruslan Marasabessy, dalam sidang perdana yang digelar di Pengadilan Tipikor Ambon, Rabu (18/11).

JPU menyatakan, terdakwa tidak hanya melakukan korupsi terhadap dana BOS, tetapi juga mengelola sendiri anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK), Bantuan Sosial hingga bantuan siswa miskin. Terdakwa telah memperkaya diri sendiri dengan dana-dana itu senilai Rp 926.018.574.

Menurut JPU, terdakwa melakukan pembelanjaan hingga pengeluaran keuangan sendiri, tanpa melibatkan komite sekolah dan panitia pembangunan sekolah.

Terdakwa secara sengaja memasukan kegiatan-kegiatan sesuai Rancangan Anggaran Belanja (RAB). Kegiatan tersebut ada yang benar dilaksanakan, namun terdakwa tidak membayar. Ada juga item kegiatan yang pembelanjaanya tidak ada sama sekali. Selain itu, ada beberapa item yang anggarannya sengaja dilebihkan alias mark-up.

Namun terdakwa membuat kwitansi dan nota belanja seolah-olah kegiatan tersebut dilaksanakan dan dibayar sesuai kegiatan, dan jumlah biaya yang tercantum di dalam RAB. Terdakwa membuat laporan dengan lampiran bukti pengeluaran yang tidak sah dan lengkap.

Dalam kurung waktu 2013 hingga 2014, SMP Negeri 8 Leihitu menerima dana DAK untuk rehabilitasi tiga kelas sebesar Rp 365,5 juta, dana untuk pembangunan perpustakaan sebesar Rp 227 juta, serta rehab tiga kelas sedang senilai Rp 189 juta. Sementara uang dana BOS yang diterima dari tahun 2015 hingga 2017 berturut-turut senilai Rp 198 juta, Rp 200 juta, dan Rp 179,4 juta.

Dalam dana BOS itu, ada sejumlah kegiatan fiktif yang dilakukan dengan selisih hingga Rp 275 juta, selama tiga tahun tersebut.

Selain itu, SMP Negeri 8 Leihitu juga menerima dana untuk sejumlah siswa miskin selama tiga tahun berturut-turut, sebesar Rp 86,65 juta untuk 163 siswa. Uang itu diperuntukkan untuk pembelian buku, seragam hingga peralatan lainnya. SMP 8 Negeri Leihitu juga menerima dana bansos senilai Rp 242.681.113.(SAD).

Comment