by

Sikomandan SBT Hasilkan 154 Anak Sapi

Program Sapi Kerbau Komoditas Andalan Negeri (Sikomandan) menunjukkan hasil menggembirakan di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT).
Sekalipun di masa pandemi Covid-19, program ini mampu meningkatan populasi sapi dan kerbau.

Kepala Bidang Peternakan, Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten SBT, Djahidah Tianotak, kepada wartawan diruang kerjanya, Selasa (6/7) mengatakan, upaya peningkatan populasi sapi dan kerbau melalui program Sikomandan merupakan salah satu komitmen pemerintah mengurangi dominasi ketergantungan pasokan daging dari luar.

Kita mulai melaksanakan program yang dicanangkan oleh Kementrian Pertanian untuk mengaselerasi percepatan target pemenuhan sapi potong dalam negeri. Dan kebutuhan di Kabupaten SBT dengan metode Inseminasi Buatan (IB) yang sudah berhasil di dua Kecamatan yakni Kecamatan Bula dan Kecamatan Bula Barat,” ungkap Tianotak.

Ia merincikan, sejak tahun 2017-2019, angka populasi dengan program Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab), dan kini disempurnakan menjadi kegiatan atau program Sikomandan mulai tahun 2020, tingkat keberhasilan IB juga turut merangkak naik di Kabupaten SBT.

Tahun 2017-2019 Upsus Siwab di SBT dengan metode perkawinan IB tercatat telah mencapai angka 53 ekor anak sapi atau pedet dari indukan sapi milik peternak. Sedangkan menjadi program Sikomandan pada tahun 2020 hingga Juli 2021, tingkat keberhasilan IB juga terus merangkak naik menjadi 154 ekor,” tutur Tianotak.

Dia menjelaskan, program Sikomandan ini menyediakan beragam benih dari straw atau sperma unggul, jenis sapi Ongol, Limosin, Bali Super, Madura, Simental, Brahman dan Brangus. Yang merupakan sapi eksotik bantuan dari Kementan RI memalui dinas pertanian provinsi Maluku.

Kini jenis sapi yang berhasil dengan metode IB adalah sapi jenis Ongol, Simental, Limosin dan Bali Super yang tersebar di dua Kecamatan. Sementara puluhan induk sapi lain hasil IB masih dalam kondisi bunting dari straw atau sperma unggul,” terangnya.

Menurutnya, inseminasi buatan ini semenjak tahun 2017, terget kebuntingan dari 500 akseptor hanya 300 ekor. Tetapi pihaknya juga mengalami kendalaan karena peternak belum memahami mengenai pentingnya IB terhadap ternak. Dan belum didukung dengan APBD SBT selama empat tahun anggaran.

Program IB pada tahun 2017 hingga 2021 belum didukung dengan dana APBD SBT. Kami hanya berharap kepada honor yang diberikan kepada petugas inseminator saja. Padahal kondisi lapangan dan rentang kandali untuk menjangkau para peternak sangat sulit,” ucap Tianotak.

Meskipun belum ditunjang dengan dana APBD dan jumlah tenaga lapangan sangat minim, pihaknya tidak patah arang untuk terus menciptakan inovasi baru pada Bidang Peternakan di Bumi Ita wotu Nusa.

Berinovasi menciptakan dan membuktikan kinerja dan kemampuan hasil IB terhadap sapi milik peternak kini sudah berjumlah 154 ekor,” tandas Tianotak.

Ia bahkan optimis, hingga akhir Desember 2021, seluruh target bisa terealisasi hingga 234 ekor dari target bunting 100 ekor. (SOF)

Comment