by

Soal Belajar Tatap Muka, Semua Sekolah Tunggu Intruksi Pemkot

Ambon, BKA- Kepala SMA Kristen Passo, Adriana Tatipata, mengatakan, sampai dengan saat ini, pihaknya masih menunggu intruksi Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon terkait belajar tatap muka pada semester genap tahun ajaran 2020/2021.

Soal kepastian belajar tatap muka atau tidak, menurutnya, bukan saja tingkat PAUD, SD, SMP, yang tergantung pada keputusan pemkot. Tapi juga tingkat SMA yang berada di wilayah Kota Ambon, termasuk sekolah yang dipimpinnya.

Karena berada pada wilayah Kota Ambon, maka pihaknya harus menyesuaikan diri dengan keputusan Pemkot Ambon, terkait pola pembelajaran di masa pandemi Covid-19, sesuai intruksi Pemerintah Pusat (Pempus) lewat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

“Memang dari segi kebijakan, kita berbeda. SMA menjadi tanggungjawab Pemerintah Provinsi. Tapi karena kita dalam wilayah Pemkot Ambon, jadi soal belajar tatap muka, kita tunggu keputusan Pemkot. Tidak bisa kita ambil keputusan sendiri, karena itu sudah intruksi dari pusat,” ungkap Tatipata, Minggu (10/1)

Untuk itu, dia meminta Pemkot Ambon segera mengambil keputusan terkait pola pembelajaran, untuk memberikan kepastian bagi pihak sekolah.

Apapun keputusan Pemkot Ambon, menurutnya, pasti sudah melalui kajian dan pertimbangan yang matang. Bukan saja soal perkembangan Covid-19 yang menjadi pertimbangan, tapi juga kebutuhan belajar siswa ditengah pandemi. Karena berdasarkan hasil evaluasi, Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang dilakukan pada tahun 2020, membuat anak-anak tidak belajar efektif

“Kita harapkan, bukan saja soal perkembangan Covid-19 yang jadi dipertimbangkan, tapi masa depan anak kita juga. Sebab berdasarkan hasil evaluasi kita, bahkan mungkin di sekolah lain itu, Kualitas anak-anak, baik dari segi pengetahuan maupun karakter, itu menurun. Karena itu, kalau PJJ berlanjut, tentu akan lebih berpengaruh bagi mereka. Memang kesehatan jadi prioritas, tapi apakah kita harus begini terus. Paling tidak, ada solusi lain, selain PJJ ini. Artinya, PJJ bisa tetap dilakukan, tapi juga berikan ruang tatap muka dengan teknisnya sesuai protokol kesehatan,” pintanya.

Jika PJJ berlanjut, terangnya, orangtua belum tentu mendukung maksimal. Karena orangtua juga menginginkan adanya pola belajar yang lebih efektif di tengah pandemi ini.

“Jadi tidak hanya siswa. Orangtua juga semakin hari semakin merasa terbeban dengan PJJ ini. Karena harus membagi waktu untuk kerja dan mengurus anak belajar di rumah. Walaupun memang mereka juga takut adanya penyebaran virus. Sehingga diharapkan agar pemkot juga dapat mempertimbankan hal itu. Disamping pikirkan situasi sekarang ini,” harap Tatipata. (LAM)

Comment