by

Soal Laporan Sertifikat, Latupeirissa Minta Polisi Tuntaskan

Ambon, BKA- Kuasa hukum Yohanis Laturake, Ferry Ch. Latupeirissa mengungkapkan, penyidik Satreskrim Polres SBB telah melayangkan panggilan terhadap saksi Ato Laturake (Anggota TNI), yang diduga turut bersama-sama melakukan penggelapan sertifikat kliennya sejak beberapa bulan lalu.

Kasus penggelapan sertifikat milik Yohanis Laturake di lahan yang terletak di seputaran depan PLN Piru, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) itu, diminta agar Polres SBB dapat menuntaskan laporan tersebut.

“Karena penyidik bilang sudah layangkan panggil terhadap oknum TNI itu, jadi saya sangat mengapresiasi langkah penyidik dalam menangani kasus ini,” ungkap Ferry kepada koran ini, Kamis (11/3).

Menurutnya, untuk perkara ini, saksi oknum TNI itu merupakan saksi penting untuk laporan ini menjadi terang benderang.
“Jadi keterangan oknum TNI itu sangat diperlukan penyidik. Karena menang penyidik sangat membutuhkan keterangannya. Karena dia pun diduga turut terlibat dalam kasus ini,” jelas Ferry.

Pengacara muda ini menambahkan, dengan adanya pemanggilan terhadap saksi tersebut, maka sebagai kuasa hukum pelapor, dia menyerahkan semua proses hukum ke penyidik Satreskrim Polres SBB.
“Saya serahkan semuanya ke pihak polisi untuk bekerja menuntaskan kasus ini,” pungkasnya.

Sebelumnya, Latupeirissa mengatakan, sampai saat ini, Polres SBB,belum juga memanggil para terlapor, Tomas Laturake, Steven Laturake dan Ato Laturake (Anggota TNI), yang diduga adalah aktor dibalik penggelapan sertifikat nomor 438 dengan luas 897 meter persegi itu.

Untuk itu, ia berharap, Satreskrim Polres SBB segera memanggil para terlapor untuk diperiksa. Dan kalau bisa, jadikan mereka sebagai tersangka langsung dalam perkara ini.

“Mengapa harus mereka itu segera dipanggil dan dijadikan mereka sebagai tersangka, karena sertifikat milik klien saya itu mereka ambil. Hal ini sesuai pengakuan terlapor Tomas Laturake dan Ato Laturake sendiri saat awal kita mediasi,” ungkap Ferry, ketika mendatangi redaksi Harian Beritakota Ambon, Februari 2021 lalu.

Pengacara muda ini mengatakan, sertifikat milik kliennya berpindah ke tangan para terlapor, karena waktu itu, anak dari Yohanis Laturake menjadi pelaku penganiayaan. Saat itu, pihak korban melakukan proses hukum dan meminta agar pihak pelaku menanggung biaya korban.

“Karena saat itu klien saya tidak ada uang, mereka ingin untuk gadai sertifikat rumah. Saat itu terlapor Steven Laturake mengambil sertifikat klien saya tujuannya untuk gadai mencari biaya keperluan yang diminta pihak korban. Nyatanya mereka tidak gadai sertifikat ke orang, tapi para terlapor sendiri yang sepakat untuk menyimpan sertifikat itu kemudian tidak kembalikan ke Yohanis Laturake sampai saat ini,” jelasnya.

Ferry melanjutkan, karena tidak pulangkan sertifikat kliennya, Yohanis Laturake kemudian memilih jalur hukum dengan melaporkan para terlapor dengan kasus tindak pidana penggelapan sertifikat, sebagaimana diatur dalam pasal 372 KUHPidana.

“Jadi karena sertifikat belum dikembalikan, kami langsung melaporkan mereka ke Polres SBB. Harapan saya, semoga Satreskrim Polres SBB secepatnya menuntaskan kasus ini. Karena ada indikasi kuat, salah satu terlapor merupakan oknum TNI jadi mereka mencoba main dalam perkara ini, membuat polisi lama-lama menuntaskan kasus ini,” tandasnya.
Para terlapor juga, tambah dia, sedang memasukan gugatan perdata terkait pembagian ahli waris di Pengadilan Dataran Honipopu.

“Bagi saya, silakan saja mereka gugat, tapi, pulangkan dulu sertifikat milik klien saya. Karena nama dalam sertifikat itu nama klien saya bukan keluarga Laturake. Karena itu yang menjadi dasar laporan pidana kami di Polres SBB,” pungkasnya.(SAD)

Comment