by

SPDP Pembunuh Firman Diterima Jaksa

beritakotaambon.com – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Ambon, resmi menerima surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP), terkait kasus pembunuhan yang dilakukan dua tersangka di bawah Jembatan Merah Putih (JMP) Kota Ambon belum lama ini.

Kepala Seksi Pidana umum (Kasi Pidum) Kejari Ambon, A.P. Latuconsina mengatakan, terhadap berkas perkara dua tersangka pembunuhan di JMP, JPU baru menerima SPDP dari penyidik Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease.

Menurutnya, SPDP merupakan tanda bahwa penyidik memulai penyidikan suatu perkara. Berdasarkan mekanisme yang diatur dalam pasal 109 UU nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acana Pidana (KUHP). Artinya, penyidik wajid mengirim surat pemberitahuan kepada penuntut umum terkait perististiwa tindak pidana tersebut.

“Dalam SPDP itu memuat, dasar penyidikan berupa laporan polisi dan surat perintah penyidikan, waktu dimulainya penyidikan, jenis perkara, pasal yang dipersangkakan dan uraian singkat tindak pidana yang disidik, identitas tersangka (apabila identitas tersangka sudah diketahui) dan identitas pejabat yang menandatangani SPDP,” terang Latuconsina, melalui selulernya, Jumat (27/8).

Kata dia, dengan diterimanya SPDP, kemungkinan dalam waktu dekat, berkas perkara dua tersangka ini akan dikirim ke jaksa untuk diteliti. “Nanti kita tunggu saja, tapi biasanya, mereka kirim SPDP tidak lama lagi, berkasnya di kirim untuk diteliti,” tandasnya.

Sebelumnya diberitakan, misteri kematian Firman Ali alias La Tole, yang ditemukan dalam kondisi tewas pada penyangga tiang 11 JMP, Kota Ambon, Kamis (19/8) lalu, terungkap.

Dari hasil penyelidikan penyidik Satreskrim Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease selama 21 jam, pasca ditemukan mayat korban, diketahui pelaku pembunuh terhadap Firman adalah dua rekannya, yang merupakan tetangganya yang tinggal di Desa Waiheru, Kecamatan Baguala, Kota Ambon.

Kedua pelaku itu yakni A (16) dan R (21). Kini penyidik telah menetapkan keduanya sebagai tersangka, serta disangkakan melanggar pasal 338 dengan ancaman 15 tahun penjara, bahkan bisa dikenakan pasal seumur hidup.

Baca juga: Desak Penegak Hukum Tangani Masalah Gumumae

Kapolresta Pulau Ambon dan Pp Lease, Kombes Pol. Leo Surya Nugraha Simatupang, mengungkapkan, misteri kematian korban ini diketahui setelah personel Satreskrim Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease yang dipimpin AKP Mido Manik, melakukan penyidikan kurang lebih 21 jam, akhirnya, menemukan penyebab kematian korban adalah perbuatan kedua tersangka, inisial A dan R.

Kapolresta mengaku, awalnya korban dijemput kedua tersangka menggunakan kendaraan roda dua, mereka bonceng bertiga pergi ke salah satu rekan di Hotel Sahabat, kawasan Kecamatan Sirimau.

“Sampai di sana, mereka mengkonsumsi miras. Namun ada salah paham. Korban menegur temannya (tersangka) berkata, seperti anak kampung yang baru melihat lampu. Karena salah satu temannya bermain saklar lampu yang menyebabkan mati menyala seperti lampu di tempat hiburan diskotik,” terang Kapolresta, Jumat (20/8).

Dirinya mengaku, dari perkataan itu, tersangka A kesal. Selain tersangka A, rekannya R (tersangka) juga kesal dengan korban kerap menolak meneguk miras saat gilirannya. Selanjutnya, dua tersangka dan korban cek cok mulut dari dalam kamar hotel hingga berlanjut di sepanjang perjalanan pulang menuju tempat tinggal mereka.

Di atas JMP (TKP), mereka berhenti dan kembali adu mulut. Korban lalu dianiaya oleh kedua tersangka. Digebuk berulang kali, korban langsung jatuh pingsan.

Melihat korban tidak sadarkan diri, tersangka R berinisiatif untuk menghilangkan jejak korban. R dan A lalu membuangnya dari atas JMP, berharap agar korban tenggelam di dalam laut bawah JMP. “Niatnya tubuh korban jatuh ke Air laut, namun nyangkut di salah satu tiang di bawah JMP,” paparnya.

Usai melakukan aksi tak terpuji itu, lanjut Simatupang, kedua tersangka melarikan diri ke Negeri Seith, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah. “Usut punya usut, jejak kedua tersangka diketahui hingga akhirnya ditangkap petugas polisi,” tandasnya. (SAD)

Comment