by

Sulit Atasi Kejenuhan Siswa BDR

Ambon, BKA- Sekolah mengalami kesulitan dalam mengatasi kejenuhan siswa-siswinya selama proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau Belajar Dari Rumah (BDR) secara Daring maupun Luring di tengah pandemi Covid-19 di Kota Ambon.

Hal tersebut diakui oleh Wakil Kepala Sekolah Dasar (SD) Inpres 36 Rumah Tiga, Rony Wairisal. Ia menegaskan semakin sulit mengatasi kejenuhan siswa. Lantaran PJJ masih terus dilakukan.

Menurutnya, penyebab terbesar siswa merasa jenuh adalah, karena belajar jarak jauh belum kunjung selesai. Untuk itu, berbagai upaya yang dilakukan oleh sekolah tentu akan sulit mengatasi kejenuhan para siswa-siswinya.

“Satu-satunya cara mengembalikan semangat mereka adalah, sekolah dibuka kembali. Tapi kan, tidak mungkin kita buka sekolah. Kalau Kota Ambon masih zona merah. Artinya, bahwa sebagai guru, berbagai upaya hingga saat ini terus dilakukan. Tapi karena situasi dan kondisi sehingga mau tidak mau, kita harus sesuaikan dulu,” ucap Wairisal, Minggu (25/10).

Wairisal menjelaskan awalnya PJJ dilakukan, baik siswa, maupun orangtua sangat bersemangat untuk mengikuti BDR. Namun, berjalannya waktu justru terbalik. Siswa kini merasa jenuh. Lantaran tidak lagi mengikuti proses belajar di sekolah.

“Pertama kali PJJ itu mereka sangat bersemangat. Maksudnya, selain karena mereka menganggap PJJ itu berarti libur, tapi juga karena semua orang merasa takut dengan Covid-19. Sekarang ini, semangat mereka justru ingin kembali belajar di sekolah. Itu artinya, tidak ada cari lain selain kita buka sekolah,” ungkapnya.

“Namun mengingat masih ada penyebaran virus, sehingga kita tidak pernah jenuh-jenuhnya memberikan pemahaman, penguatan kepada mereka. Berharap, meskipun tidak kembalikan semangat mereka seperti awal, tapi setidaknya, ada sedikit semangat dalam diri mereka untuk bisa tetap bertahan mengikuti BDR,” sambungnya.

Proses belajar pun, lanjut dia, hingga saat ini terus dilakukan. Baik secara Daring maupun Luring lewat kelompok-kelompok belajar

“Puji Tuhan, proses belajar tetap berjalan. Ada yang Daring, tapi juga Luring. Luring ini, kita terbatas sehingga bentuk kelompok belajar. 1 kelompok sekitar 5 orang. Jadi, lokasi belajar kelompok disesuaikan dengan lokasi tempat tinggal guru. Itu yang selama ini kita terus jalankannya. Mudah-mudahan, proses belajar ini tetap berjalan hingga sekolah dibuka kembali,” tutup Wairisal. (LAM)

Comment