by

Syahbandar Tuding PT Sumber Mas Lalai

Pihak kepolisian hingga saat ini belum juga menetapkan tersangka, kasus meninggalnya salah satu karyawan PT Sumber Mas di lokasi proyek pembangunan dermaga Fery Tiakur akibat tersengat listrik, beberapa waktu lalu.

Namun terkait insiden naas itu, Syahbandar menuding PT Sumber Mas membuat kelalaian karena beroperasi diluar ketentuan yang telah ditetapkan.

Tudingan ini disampaikan Kepala Syahbandar Wilayah Kerja Pelabuhan Kaiwatu, Kres Rupimela. Menurutnya, ijin olah gerak bagi seluruh aktivitas kapal yang masuk ke Pulau Moa, ditempatkan di pelabuhan speed Pantai Tiakur. Karena Dermaga Kaiwatu masih dalam proses pembangunan.

Karena itu, katanya, ketika terjadi insiden di Dermaga Fery yang menimpa salah satu karyawan PT Sumber Mas, tentu hal itu merupakan kelalaian karena tidak menjalankan aturan yang telah ditetapkan.

“Kita semua tahu, kalau Dermaga Fery saat ini masih dalam proses pembangunan. Dan namanya lokasi proyek, maka aktivitas di lokasi tersebut pun terbatas. Tidak boleh ada kegiatan lain, selain kegiatan proyek. Maka dari itu, ketika PT Sumber Mas berinisiatif untuk melakukan bongkar muat di Dermaga Fery, maka segala resiko bukanlah menjadi tanggungjawab kami. Karena ijin olah gerak dan bongkar muat yang kami berikan sudah jelas lokasinya, tetapi justru dilanggar oleh pihak perusahaan,” jelas Rupimela, Jumat (21/5).

Terpisah, Direktur CV Fazghar Bangun, Asmoro, yang menangani proyek pembanguan Dermaga Fery Tiakur, mengatakan, pihaknya telah menutup area proyek, sejak proyek dijalankan.

Tapi kadang masyarakat tetap beraktivitas di lokasi dermaga, baik bongkar muat barang maupun penumpang kapal dan speed. Sudah ditegur berkali-kali, namun tidak dihiraukan.

Selain itu, dia tidak menyangka akan terjadi kecelakaan yang merenggut nyawa. Karena semua aktivitas proyek telah dilakukan sesuai dengan prosedur atau safety. Khususnya untuk kabel yang digunakan sebagai saluran listrik ke lokasi proyek, juga disesuaikan dengan standar PLN. Bahkan dipasang langsung oleh pihak PLN.

“Kabel yang kita gunakan itu sudah susai standar, bahkan kita tidak membiarkan kabel itu tergeletak di tanah, melainkan ditopang menggunakan tiang untuk menyangga kabel tersebut, agar tetap berada di bagian atas. Kabel yang kita gunakan pun tidak ada yang terkelupas atau telanjang. Mungkin ketika dilakukan pembongkaran oleh PT Sinar Mas, besi yang digunakan sebagai pelindung profil tank mengenai kabel, sehingga terjadi pergesekan yang mengakibatkan adanya kebocoran arus listrik,” jelas Asmoro.

Selian itu, terangnya, jumlah tegangan yang mengalir pada kabel tersebut cukup kecil, yakni, dengan Voltase 220 dari metetan induk. Bahkan daya yang digunakan oleh perusahan hanya sebesar 3000 Watt. Karena itu, dengan jarak 250 meter ke lokasi pekerjaan, sudah pasti arus listriknya semakin kecil.

Dirinya berharap, pihak kepolisian dapat segera menangani persoalan tersebut, agar dapat ditemukan titik terang insiden maut itu.

Untuk diketahui, hingga berita ini dikabarkan pihak SatReskrim Polres MBD masih melakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut, dan belum ditetapkan tersangka. (GEM)

Comment