by

Talud Gumumae Rusak Parah, Pengunjung Protes

Ambon, BKA- Pengunjung lagi-lagi protes, dengan kerusakan talud penahan ombak yang dibangun di bibir pantai wisata Gumumae, Desa Sesar, Kecamatan Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT). Pasalnya, talud yang baru dikerjakan sepanjang 700 meter senilai miliaran rupiah, rusak parah pasca dihantam ombak.

Pantauan koran ini di lapangan, Jumat, (04/02) sore, terlihat talud Gumumae mengalami tanda retak dan patah. Bahkan, paving blok yang sebelumnya di tata rapi, kini telah ambruk. Diduga, rusaknya talud tersebut akibat galian talud yang tidak terlalu dalam, sehingga tidak kuat disapu ombak.

Bahkan dalam sepekan terakhir, akhir Januari hinggga Februari 2021, pembangunan talud yang ditangani Satker Dinas Pariwisata Kabupaten SBT dengan Kontrak CV. Julion Jaya Pratama itu, sudah tiga kali ambruk. Padahal anggaran proyek pembangunan talud Gumumae terbilang cukup besar senilai Rp. 1 lebih dari APBD Kabupaten SBT di tahun anggaran 2020.
Kondisi rusak parah talud itu, sempat membuat warga protes saat berkunjung ke lokasi wisata itu. Warga menilai kontraktor dan konsultan perencana yang bekerja talud Gumumae tidak punya perencanaan yang matang. Hingga pekerjaan yang dihasilkan amburadul.

“Kontraktor dan konsultan ini kerja bagaimana kaya begini ? Kalau talud saja rusak begini, apa manfaatnya ? Sekarang tanda retak banyak, tanda patah, paving blok rusak. Ini karena perencanaan tidak bagus,” sebut salah satu warga, Emit Isanekon, saat diwawancarai koran ini, Jumat (05/02).

Emit menilai, daerah SBT terkesan dibohongi oleh kontraktor dan konsultan perencana. Sebab, anggaran miliaran rupiah yang telah dihabiskan untuk membuat talud penahan ombak, terkesan dikerjakan asal-asalan dan hanya untuk mencari keuntungan besar.

“Seakan daerah ini dibohongi. Karena uang yang bersumber dari APBD tahun 2020 untuk pekerjaan talud Gumumae, itu tidak dikerjakan dengan baik. Contoh, berulangkali talud Gumumae rusak parah saat dihantam ombak,” beber dia.

Pemuda asal Kecamatan Kilmury ini juga meminta, agar pihak Inspektorat SBT dan Kejaksaan Negeri SBT bergerak secara hukum untuk mengusut proyek abal-abal itu. Sebab, ini sudah sangat merugikan daerah. “Segara diusut, ini sudah tidak beres. Pasti kontraktor makan banyak,” kesalnya.

Sebelumnya, Kepala Inspektorat Daerah SBT Nasarudin Tianotak mengaku, dari fungsi pengawasan, pembangunan talud Gumumae yang dikerjakan dengan dana milyaran rupiah itu tidak memenuhi kualifikasi teknis. “Kenapa, karena masa sih kedalaman galian hanya 60 sentimeter,” ucap Tianotak.

Padahal dari awal pembangunan, kata Tianotak, dirinya sudah sempat bicara dengan pemilik CV. Julion Jaya Pratama. Selain itu, konsultan perencana untuk dimintai gambar pembangunan talud Gumumae, demi pihaknya lancar dalam melakukan tugas pengawasan.

“Saya sudah bicara, juga dengan konsultan perencana Saleh Kelrey. Saya minta gambar talud Gumumae saja tidak diberikan. Padahal, Saya minta gambar itu untuk mengawasi. Kalau tidak dikasi gambar, kan masalah,” tutup dia. (SOF)

Comment