by

Terdakwa Akui Pukul Korban Secara Beruntun

Ambon, BKA- Reinhard Iwan Noya alias Ren (20), warga negeri Saparua , Kabupaten Maluku Tengah (Malteng),mengakui dipersidangan yang digelar di Pengadilan Negeri Ambon, kalau dia melakukan penganiayaan terhadap korban secara beruntun.

Hal ini disampaikan terdakwa dalam persidangan dengan agenda pemeriksaan terdakwa, yang di pimpin ketua majelis hakim, Cristina Tetelepta Cs, sedangkan terdakwa didampingi kuasa hukumnya, Dominggus Huliselan, dalam sidang, Rabu (27/1).
Di persidangan terdakwa mengaku, melakukan penganiayaan terhadap korban dengan cara memukul secara beruntun.
“Saya pukul lebih dari satu kali yang mulia, tapi itu saya lakukan karena dalam kondisi emosi,” jelas terdakwa di persidangan itu.

Kata dia, terhadap kasus ini,dirinya berjanji tidak akan melakukan perbuatan berulang. Terdakwa juga berjanji akan memperbaiki sikap dan tindakannya biar ke depan lebih baik..
“Saya salah yang mulia, saya berjanji tidak akan terulang lagi,” pungkasnya.

Kasus ini, dalam dakwaan JPU menyebut, tindak pidana yang dilakukan terdakwa terjadi Selasa 30 Juni 2019, dan 02 Desember 2019. Kejadian ini dilakukan di dua tempat berbeda. Pertama di Kompleks Pohon Kepala, Negeri Saparua, Malteng. Kejadian kedua di Kamar kost di kawasan Batu Meja, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon.

Awalnya, terdakwa sedang mengangkat pasir di rumah kakak korban yang berdekatan dengan rumah korban di Saparua. Terdakwa menyusuh korban untuk menyediakan minuman dingin kepada terdakwa. namun karena korban tidak menyiapkan minuman tersebut, membuat terdakwa geram dan memukul korban secara berulang kali.

Kejadian kedua, terjadi di kawasan Skip,saat itu terdakwa bermaksud meminjamkan HP milik korban. Terdakwa melihat, korban masih berkomunikasi dengan mantan pacar korban, membuat terdakwa marah dan kembali menganiaya korban.
Akibat dari perbuatan itu, korban mengalami luka-luka dan rasa sakit pada sekujur tubuh korban yang dibuktikan dengan hasil visum dokter.

“Perbuatan terdakwa diancaman dengan pasal 80 ayat (1) UU RI No 17,tahun 2016 tentang perubahan atas UU no 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU no 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak Jo pasal 64 KUHPidana,” tandas JPU, Chaterina Lesbata. (SAD)

Comment