by

Terdakwa Pornografi Satu Tahun Bui

Ambon, BKA- Majelis hakim Pengadilan Negeri Ambon akhinya memvonis Steven Carlos de Fretes alias Steven dengan pidana penjara selama satu tahun dalam persidangan, yang berlangsung, Rabu (21/10).

Di dalam amar putusan majelis hakim, terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dalam pasal 29 Ayat (1) Jo Pasal 4 ayat (1) huruf d UU RI No 44 Tahun 2008 tentang pornografi dan juga pasal 27 Ayat (1) Jo pasal 45 Ayat (1) UU RI Mo 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

“Menyatakan terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana dan divonis penjara selama satu tahun, di potong masa tahanan,” ungkap ketua majelis hakim, Lucky Rombot Kalalo Cs, Rabu (21/10).

Putusan majelis hakim ini lebih ringan daripada tuntutan JPU, yang sebelumnya, menuntut terdakwa Steven Carlos de Fretes alias Steven, dengan pidana penjara selama dua tahun dipotong masa tahanan.

Tuntutan JPU S. Aryani ini dibacakan dalam sidang yang berlangsung di Pengadilan Negeri Ambon, yang dipimpin ketua majelis hakim, Lucky R. Kalalo dibantu dua hakim anggota lainnya, sedangkan terdakwa didampingi penasehat hukumnya, Rony Samloy.

“Meminta kepada ketua majelis hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini supaya menjatuhi hukuman Dua Tahun penjara kepada terdakwa dipotong masa tahanan, selama terdakwa berada dalam tahanan,” ungkap JPU, S.Aryani dalam amar tuntutannya, Rabu (30/9).
JPU dalam berkas dakwaannya menyebutkan, tindak pidana yang dilakukan terdakwa terjadi pada, Sabtu 28 Juli 2018, sekitar pukul 11.00 WIT, tepatnya di rumah terdakwa.

Awalnya ketika korban yang merupakan mantan pacar terdakwa, berada di rumahnya,menerima pesan gambar bugil korban melalui saluran WhatsApp yang bernuansa. Dan terdakwa saat mengirimkan gambar tersebut kepada korban, dia mengancam dengan berkata akan menyebarkan gambar korban melalui aplikasi Instagram supaya diketahui teman-teman korban. Merasa malu, korban langsung menuju Polsek Sirimau untuk melaporkan tindakan terdakwa.

Petugas yang sudah menerima laporan bergerak cepat mendatangi tempat tinggal terdakwa untuk menangkap dia, sayangnya, terdakwa sudah melarikan diri.

Tak sampai disitu, aksi terdakwa masih terus berlanjut, dalam waktu yang sama, terdakwa terus mengirimkan foto bernuansa negatif itu ke korban sambil tetap mengancam korban. “Kamu yang malu, bukan saya yang malu”. Sebut terdakwa sebagaimana dalam dakwaan JPU.

Atas perbuatan terdakwa, postingan gambar korban diketahui rekan kerja korban, dan ketika mereka menegur terdakwa, terdakwa malah membentak mereka dengan mengirimkan pesan melalui seluler nya bahwa tidak takut kalau dilaporkan ke Polisi.

Kemudian dari laporan korban inilah, terdakwa menghilang dari pihak kepolisian. Lalu akhirnya terdakwa dimasukan dalam daftar Pencarian Orang (DPO), dan tepatnya Tahun 2020 bulan kemarin, terdakwa berhasil dibekuk tim Ciber Ditreskrimsus Polda Maluku untuk diproses sesuai hukum yang berlaku.(SAD)

Comment