by

Tolak LIN, Yusuf Renang Tempuh Jarak 1.8 Km

beritakotaambon.com – Tolak pembangunan Lumbung Ikan Nasional (LIN) di Maluku, M. Yusuf lakukan aksi heroik dengan berenang dari pantai Desa Waai menuju Pulau Pombo, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), dengan jarak tempuh 1,8 km.

Yusuf bukan saja menolak LIN di Maluku. Aksi itu, juga sebagai bentuk penolakan terhadap pembangunan Ambon New Port, yang rencananya akan dibangun di Desa Waai, Kecamatan Salahutu, Malteng.

“Kenapa dari Waai dan berakhir di Pulau Pombo, karena di Waai itu lokasi pembangunan Ambon New Port. Kalau Pombo itu Pulau, yang dikonservasi dan akan kena dampak dari pembangunan Ambon New Port,” beber Yusuf, kepada wartawan, Senin (16/8).

Aksi renang itu, kata dia, digelar Aliansi Masyarakat Pesisir Maluku (AMPM), tepatnya menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke 76 tahun (2021).

Baca juga: Ramli Pimpin Upacara HUT RI Terakhir

Yusuf berenang sambil mengibarkan Bendera Merah Putih. Diakuinya, saat berenang tidak merasakan nyeri otot atau ganguan fisik lain pada tubuhnya. Hanya saja, arus ombak yang menjadi kendala saat dirinya berenang.

“Saya berhasil sampai renang dari Wai ke Pulau Pombo. Saya tidak mengalami gangguan fisik selama berenang. Kendala hanya arus,” bebernya.

Yusuf yang juga bagian dari AMPM ini, dalam rilisnya juga menyebutkan, pembangunan LIN di Maluku dan Ambon New Port hanya proyek elit politik, dan tidak bermanfaat kepada para nelayan kecil yang ada.

Bahkan rencana membangun LIN Maluku, dianggap hanya proyek perikanan yang terkatung-katung sejak lama. Sehingga tidak perlu direalisasikan.

Menurutnya, pada 27 Juli 2021 lalu, Pemerintah Provinsi Maluku melakukan rapat virtual dengan Pemerintah Pusat, yang turut dihadiri Gubernur Maluku, Murad Ismail dan Presiden RI, Joko Widodo. Yang salah satu agendanya, membahas masa depan proyek Maluku Lumbung Ikan Nasional (M-LIN), yakni sebuah proyek pembangunan ekonomi perikanan yang terkatung-katung sejak lama.

Dan dalam rapat itu, lanjut dia, Jokowi setuju Pembangunan LIN di Maluku. Dan kemudian dimasukan dalam Proyek Strategis Nasional (PSN). Bahkan Presiden bersedia datang ke Ambon pada November 2021 nanti, untuk meletakkan batu pertama pembangunan pelabuhan Ambon New Port, yang merupakan bagian dari proyek LIN Maluku.

“Pemerintah Provinsi Maluku menyatakan mereka telah menyediakan tanah seluas 900 hektar bagi pembangunan pelabuhan dan pusat kegiatan ekonomi LIN. Lokasinya berada di antara Desa Waai, Pulau Ambon,” bebernya.

Jika dilihat dari perjalanannya, lanjut dia, sejak awal proyek LIN diusung di era mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), hingga disahkan proyek sebagai PSN di era Jokowi. Dan pengetahuan mengenai M-LIN ini hanya berputar-putar di lingkaran elit Maluku, yaitu politikus, birokrat, peneliti, serta aktivis pemberdayaan. Serta tidak sepenuhnya berkembang luas di luar lingkaran dimaksud.

“Para elit politik dan bisnis gagal menurunkan proyek LIN dari suatu wacana pembangunan ekonomi yang elitis, menjadi pembangunan ekonomi berbasis masyarakat nelayan. Keterbatasan wacana LIN tercermin dalam narasi yang mengemuka di sekitar proyek ini. Dimana yang dominan adalah narasi pembangunan ekonomi berorientasi pasar. Seperti peningkatan ekspor, penggenjotan produksi perikanan, pembangunan hub ekonomi, pertumbuhan dan peningkatan kas daerah.

Baca juga: Stok Telur di Transit Passo Terbatas

Untuk itu, tambah dia, AMPM menolak pembangunan LIN di Maluku, menghentikan rencana pembangunan Ambon New Port sebagai salah satu pusat kegiatan ekonomi LIN di Waai, Pulau Ambon. Juga mendesak pemerintah daerah maupun pusat, untuk secara terbuka melibatkan masyarakat Maluku dalam proyek ekonomi perikanan. (IAN)

Comment