by

Tujuh Tersangka YAB Belum Ditahan

Penyidik Ditreskrimum Polda Maluku dinilai terkesan tebang pilih, dalam penanganan kasus penipuan yang dilakukan Yayasan Anak Bangsa (YAB).

Dari 9 tersangka yang sudah ditetapkan, dua tersangka sudah ditahan. Yakni, Josefa Jenalia Kelbulan selaku Ketua YAB dan Lamberth W. Miru selaku Sekretaris YAB.

Sdangkan 7 tersangka lainnya belum ditahan oleh penyidik, yakni, Bidadari, Supici Leky Alias Ice, Lendy Latupatty, Ongen Miru, Berti Miru, Andreas dan Lucas Pattala.

“Kita pertanyakan ini. Mengapa baru 2 tersangka yang ditahan, sedangkan 7 lainnya belum ditahan,” ujar praktisi hukum Maluku, Eduard Diaz, Kamis (1/7).

Menurutnya, jika penahanan para tersangka tidak dilakukan secara keseluruhan, maka penyidikan kasus ini harus dipertanyakan.

“Ini harus kita pertanyakan. Polda diduga tebang pilih dalam kasus ini,” singkatnya.

Terpisah, Direskrimum Polda Maluku, Kombes Pol. Sih Harno, mengatakan, kasus ini masih dalam penyidikan tim. “Intinya masih dalam penyidikan. Dan ini semua merupakan materi penyidik, jadi ikuti saja,” tandasnya.

Sebelumnya diberitakana, tim penyidik Polda Maluku tengah melengkapi berkas 9 tersangka kasus penipuan Yayasan Anak Bangsa (YAB). Hal itu dilakukan pasca dilakukan tahap I kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Maluku, beberapa waktu.

Dari tahap I tersebut, ditemuka ada beberapa kekurangan, sehingga tim penyidik harus melengkapi hal itu sesuai ptunjuk jaksa.

9 tersangka tersebut, yakni, Josefa Jenalia Kelbulan selaku Ketua YAB, Lamberth W. Miru selaku Sekretaris YAB. Sedang 7 tersangka lainnya merupakan relawan dan pengurus YAB, yaitu, Bidadari, Supici Leky Alias Ice, Lendy Latupatty, Ongen Miru, Berti Miru, Andreas dan Lucas Pattala.

Direskrimum Polda Maluku, Kombes Pol. Sih Harno, mengatakan, berkas perkara ini, sejak beberapa pekan lalu sudah dilakukan pelimpahan berkas tahap I ke JPU Kejati Maluku. Karena masih ada kekurangan, Kejati kemudian mengembalikan berkas perkara tersebut dengan petunjuk masing-masing.

“Jadi kita sudah tahap I beberapa pekan lalu. Karena berkas belum lengkap, jaksa kembalikan ke kita untuk lengkapi disertai petunjuk masing-masing,” ujar Harno melalui selulernya, Kamis,(24/6).

Sebelumnya, Ditreskrimum Polda Maluku merilis tujuh tersangka baru kasus penipuan oleh Yayasan Anak Bangsa (YAB).

Awalnya, Mei 2021 lalu, Polisi menetapkan Ketua YAB Josefa Jenalia Kelbulan dan Sekretaris Lamberth W. Miru sebagai tersangka. Keduanya merupakan pasangan suami-istri (pasutri).

Tujuh tersangka tambahan itu bernama Bidadari, Supici Leky Alias Ice, Lendy Latupatty, Ongen Miru, Berti Miru, Andreas dan Lucas Pattala.

“Ditreskrimum Polda Maluku kembali menetapkan tujuh tersangka kasus penipuan yang dilakukan oleh Yayasan Anak Bangsa,” kata Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Pol. M Roem Ohoirat, Minggu (13/6).

Tersangka baru ini merupakan pengurus YAB dan kaki tangan Pasutri tersebut. Direskrimum Polda Maluku, Kombes Pol Sih Harno sebelumnya menyampaikan, total tersangka kasus penipuan oleh YAB berjumlah 9 orang.

Ketujuh tersangka tambahan ini belum ditahan karena masih dalam proses penyidikan. “Mereka belum ditahan tapi proses sidik tetap berjalan. Tersangka kasus YAB semua 9 orang. Tambahan 7 tersangka. 4 orang pengurus dan 3 orang relawan,” jelas Harno, belum lama ini.

Diberitakan sebelumnya, polisi menjerat Ketua YAB Josefa Jenalia Kelbulan dan Sekretarisnya, Lambert W Miru sebagai tersangka kasus penipuan. Dari aksi penipuan itu tersangka berhasil meraup uang miliaran rupiah dari warga yang merupakan korban.

Harno menjelaskan, tindakan penipuan yang dilakukan oleh kedua tersangka dengan mengatasnamakan Yayasan Anak Bangsa terjadi sejak tahun 2012. Setelah 8 tahun melancarkan kejahatannya, baru di tahun 2020, YAB mengantongi akta pendirian yayasan dari notaris.

“Kita terima laporan polisi tanggal 29 April 2021 dilapokan atas nama Josefa Jenalia Kelbulan alias Yos. Kita sudah lakukan penangkapan dan penahanan juga terhadap Lambert W Miru,” kata Harno didampingi Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol M. Roem Ohoirat dalam keterangan pers di Mapolda Maluku, Selasa (4/5).

Kedua tersangka dikenakan Pasal 378 dan Pasal 372 ancaman hukuman 4 tahun penjara.
Harno mengurai modus tersangka dalam menjalankan aksinya. Pertama, kepada warga disampaikan tender relawan yang menyetor dana Rp 250.000 akan memperoleh bantuan dana sebesar Rp 15 juta.

Kedua, bagi warga yang menyetor Rp 1 juta diberikan bantuan Rp 50 juta, dengan runcian Rp 30 untuk rumah ibadah dan Rp 20 juta dimiliki si penyetor.

Ketiga, tender relawan 45. Warga yang menyetor Rp 1 juta ke yayasan itu akan mendapat dana segar Rp 45 juta.

Keempat, tender relawan lepas. Warga yang menyetor Rp 1 juta diberikan bonus mencapai Rp 100 juta.

“Korban penipuan tersangka 5 orang. Uang yang disetor ke yayasan itu sebesar Rp 535 juta,” sebut Harno.

Sebelum dibekuk Ditreskrimum Polda Maluku, tersangka juga melakukan aksinya di kabupaten kepulauan Tanimbar.

“Polres Tanimbar juga pernah tangani perkara ini dengan jumlah korban 16 orang, total kerugian Rp 335 juta,” bebernya.

Harno melanjutkan, sekitar 350 orang relawan juga dirugikan oleh aksi penipuan tersangka. Dia memprediksi jumlah korban penipuan YAB mencapai ratusan bahkan ribuan orang. Untuk memastikan jumlah korban penipuan, Harno mengimbau masyarakat untuk melaporkan kepada pihak kepolisian.

“Saya berharap masyarakat yang merasa dikorbankan dengan yayasan ini agar melapor ke pihak kepolisian,” tandasnya.(SAD).

Comment