by

Tuntutan Jaksa di Kasus Narkoba Dipertanyakan

Ambon, BKA- Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Ambon yang menangani kasus narkoba terdakwa Robert Latuheru alias Roy,(39), yang dituntut 6 Tahun penjara mempertanyakan pertimbangan jaksa dalam kasus tersebut.

Melalui Kuasa Hukum terdakwa, Adolof Gerrets Suryaman kepada koran ini mengaku, sangat kecewa dan tidak adil melihat ancaman jaksa dalam perkara ini, padahal, terbukti dari fakta persidangan, kliennya Robert Latuheru punya status yang sama yakni sebagai pemakai. Terdakwa pun mendapat barang terlarang itu dari rekannya Arnold Pattilatu. Padahal terakhir dalam persidangan, tuntutan jaksa Arnold Pattilatu diancam 1,6 Tahun penjara(Satu Tahun Enam Bulan) sedangkan terdakwa diancaman dengan penjara selama 6 Tahun.

“Ini pertimbangan model apa, masa keduanya itu merupakan pemakai,dengan satu paket barang bukti yakni 2 linting narkoba jelis ganja, anehnya, klinnya dituntut 6 Tahun, sedangkan rekannya Arnold Pattilatu diancam hanya 1.6 Tahun. Ini kan jelas-jelas tidak adil,” kesal Adolof saat menghubungi Beritakota Ambon, Senin (17/8) kemarin.

Dari perkara ini, terlihat jelas, ada sesuatu yang terselubung yang dipakai JPU dalam menuntut kliennya.

“Aneh saja, masa satu barang bukti, kok hukumannya tidak sama,” jelasnya.
Bahkan kata dia, barang bukti yang dipakai terdakwa Robert adalah milik rekannya Arnold Pattilatu. Semua itu telah terbukti di persidangan.”Tapi jujur saya kesal dengan ancaman JPU ini,” imbuhnya.

Dengan demikian pengacara muda itu berharap, ketua majelis hakim yang akan memutuskan perkara ini supaya bijaksana. Sehingga unsur keadilan dalam perkara ini bisa ditemui.

“Saya minta pak hakim yang menangani kasus ini bijaksaja, saya juga akan mengajukan nota pledoi di persidangan nanti, saya akan sampaikan semua unsur-unsur dan fakta persidangan melalui nota pledoi nanti,” tandas Adolof.

Sebelumnya diberitakan koran ini, di persidangan di Pengadilan Negeri Ambon, Selasa (11/8), Robert Latuheru alias Roy dituntut enam tahun penjara oleh JPU S.Aryani dalam sidang yang dipimpin ketua majelis hakim Jeny Tulak cs, disaksikan langsung PH terdakwa Adolof Gerrets Suryaman.
Selain pidana badan, terdakwa juga dibebankam membayar denda sebesar Rp. 800 juta subsider enam bulan kurungan.

“Menyatakan terdakwa terbukti bersalah melanggar pasal 111 ayat (1) UU No 35 tahun 2009 tentang narkotika,”jelas JPU dalam berkas tuntutannya.
JPU dalam berkas dakwaannya menyebutkan, tindak pidana yang dilakukan terdakwa terjadi pada, 31 Januari 2020, sekitar pukul 11.30 WIT,

bertempat di kawasan jalan Amahusu, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon.
Awalnya petugas dari Ditresnarkoba Polda Maluku masing-masing Rivano Diky Latuperisa, Feliks Watimena, Andreas Baragain Sahubudin Ubrusan, mendapat informasi dari informan bahwa ada yang akan mengkonsumsi narkoba di daerah Benteng, Kecamatan Nusaniwe.

Dari informasi itu,petugas kemudian mendatangi TKP, namun karena tidak ada gerak gerik orang di TKP, mereka kemudian berjalan terus ke daerah Amahusu. Di sana mereka menangkap terdakwa dengan barang bukti dua linting kecil.

Dari hasil interogasi, terdakwa mengatakan kalau mendapat barang bukti berupa dua linting kecil ganja dari rekannya Arnold Pattilatu (Berkas terpisah).

Setelah mendengar keterangan terdakwa, petugas bersama dia melakukan penangkapan terhadap Arnold di depan Planet Wainitu.

Saat diamankan Arnold, Arnold kemudian membeberkan kalau mendapat barang bukti itu dengan cara membeli dari terdakwa Febri Rimpa.

Setelah menerima informasi tersebut,petugas bersama terdakwa dan Arnold mendatangi tempat tinggal terdakwa di Belakang Soya, tepatnya di kantor JNT untuk menangkapnya.

Setelah itu, petugas membawa mereka ke kantor Dit Resnarkoba Polda Maluku untuk diproses sesuai hukum yang berlaku. (SAD)

Comment