by

Vonis Mati Untuk Pembunuh Berencana

Ambon, BKA- Majelis Hakim Pengadilan Negeri Saumlaki menjatuhi hukuman mati terhadap Arkilaus Enus alias Arki alias Kilu, terdakwa pelaku pembununan berencana di Desa Seira, Kecamatan Wermaktian, Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT).

Vonis itu disampaikan oleh majelis hakim yang diketuai Sahriman Jayadi, yang dibantu Elfas Yanuardi dan Haru Manviska selaku hakim anggota, pada sidang yang digelar di PN Saumlaki, Rabu (28/4).


Pada kasus pidana tingkat pertama itu, Arkilaus Enus alias Arki alias Kilu (19) sebagai pelaku atau terdakwa, asal Desa Rumasalut. Dia dakwah karena membunuh atau menghilangkan nyawah Ibu Samonici Luanmase (70) secara berencana.

“Prinsipnya kami sependapat dengan penuntut umum, karena menurut penuntut umum juga didalam tuntutan memang terbukti dalam pasal 340, yaitu, pembunuhan berencana dan oleh majelis hakim pun didalam pertimbangan juga sepakat dengan penuntut umum. Hanya terkait dengan pidana yang diterapkan terhadap terdakwa, terdapat perbedaan pendapat antara majelis dan penuntutut umum. Penuntut umum menuntut 15 tahun, tetapi oleh majelis hakim dirubah untuk dinaikan menjadi hukuman mati,” ungkap Sahriman Jayadi, dalam keterangan pers di ruang kerjanya.

Ada berbagai pertimbangan yang diambil oleh majelis hakim, sehingga menjatuhkan vonis lebih berat dari tuntutan JPU. Yakni, bahwa perencanaan pembunuhan yang dilakukan oleh terdakwa terlalu sadis, berupa melakukan pembacokan sebanyak empet kali dibagian kepala menggunakan parang, tiga kali di bagian depan tubuh korban. Semua itu dilakukan terdakwa di depan anak kandung korban.

“Sehingga tepatnya untuk yang bersangkutan ini diterapkan hukuman mati,” kata Sahriman.

Memang pada proses persidangan, ada pembelaan yang dilakukan oleh kuasa hukum terdakwa, berupa meminta keringanan hukuman, karena terdakwa telah berdamai dan dimaafkan oleh anak korban. walau begitu, putusan tetap dimaksimalkan, tidak ada keringanan.

“Permintaan maaf tidak bisa dijadikan sebagai alasan meringankan. Dalam persidangan tersebut memang kuasa hukumnya menjelaskan, bahwa terdakwanya sopan dalam persidangan, tidak pernah dihukum sebelumnya. Itu tak bisa dijadikan alasan, karena rencana pembunuhan yang dilakukan oleh terdakwa sangat sadis. Sehingga itu alasan majelis hakim untuk hukuman tersebut di maksimalkan,” tegasnya.

Walau begitu, Sahriman menambahkan, kalau pihak terdakwa keberatan dengan vonis tersebut masih bisa melakukan upaya banding ke Pengadilan Tinggi Ambon. Sebab putusan tersebut belum incrah atau berkekuatan hukum tetap.

Namun pengajuan banding tersebut harus dilakukan oleh pihak terdakwa melalui kuasa hukumnya, kata Sahriman, paling lambat tujuh hari setelah vonis tersebut ditetapkan. Jika hingga hari ketujuh tidak dilakukan banding, maka hari kedelapan putusan PN Saumlaki tersebut dinyatakan incrah.

“Jika hari ini jaksa atau terdakwa akan mengajukan upaya hukum, maka semua berkas akan kami kirimkan ke Pengadilan Tinggi Ambon dan akan diperiksa ulang. Sehingga sejak pernyataan pengajuan upaya hukum banding, maka itu menjadi kewenangan Pengadilan Tinggi, apakah pendapatnya sama dengan kami atau tidak, nantinya diproses di Pengadilan Tinggi. Artinya majelis tingkat pertama telah selesai dalam persidangan dan sudah diputuskan,” tutupnya.

Kuasa hukum terdakwa, Pius Batmomolin, ketika dikonfirmasi mengatakan, terkait dengan langka selanjutnya, hal itu tergantung keluarga terdakwa.

“Saya hanya bisa menunggu putusan dari keluarga. Jika ingin diteruskan ke Pengadilan Tinggi Ambon, karena sesuai aturan hanya kita diberi waktu tujuh hari, jika tidak ada tanggapan, maka putusan tadi dianggap incrah,” jelasnya. (BTA)

Comment