by

Walikota : Bangun Menara Lonceng, Bina Spiritualitas Warga.

Membangunan menara lonceng Gereja sebagai sarana pendukung peribadatan, menjadi bagian yang tak terpisahkan dari upaya pembinaan spiritualitas masyarakat.

Demikian disampaikan Walikota Ambon, Richard Louhenapessy, lewatr sambutannya dalam Peletakan Batu Penjuru Menara Lonceng Gereja Ebenhazer, Jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) Benteng Karang, Dusun Amaory, Negeri Passo, Jumat (28/5).

“Setiap hari minggu, Kota Ambon tenggelam dalam dentangan Lonceng Gereja yang mengingatkan kita untuk meninggalkan segala kesibukan dan memberi waktu untuk beribadah,” ujarnya.

Dikatakan, ibadah merupakan bentuk pembinaan dan penguatan spritualitas masayarakat, yang menjadi modal berharga membangun kota Ambon yang sejahtera, harmonis, dan religius.

“Dimana-mana saya sampaikan warga gereja yang baik adalah warga kota yang baik. Namun warga kota yang baik belum tentu warga gereja yang baik,” ujarnya.
Walikota dua periode ini mengaku, semua kemajuan yang dicapai kota Ambon tak lepas dari kontribusi warga gereja, yang selalu mendukung kebijakan Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon.

“Banyak hal yang telah kita capai namun masih banyak hal yang harus dibenahi, oleh sebab itu Pemkot perlu topangan dari seluruh warga gereja, dalam setiap langkah untuk membangun kota ini,” ucap dia.
Apa yang bisa dilakukan jemaat dalam menopang pembangunan, menurutnya adalah hal-hal sederhana yang dilakukan sesuai kemampuan masing-masing. “Bila tidak bisa memberi jangan mengambil, jika tak mengasihi terlalu sulit jangan membenci. Jika tak mampu menghibur jangan membuat orang sedih, jika tidak mau memuji jangan menghina,” sebutnya.

Sementara itu, Anggota MPH Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) Frans Papilaya, dalam kesempatan yang sama mengatakan, pembangunan Menara Lonceng menandakan dinamika dari karya Tuhan bagi jemaat GPM Benteng Karang.

“Untuk itu kita perlu bersyukur karena sebagai jemaat yang direlokasi pasca konflik. Terus termotivasi untuk membangun sarana pendukung, termasuk pembangunan menara lonceng,” imbuhnya.

Lebih lanjut dijelaskan, pembangunan menara tempat bunyi lonceng digemakan dan dikumandangkan, harus dimaknai dalam makna teologis, sebagai pekerjaan yang kudus dan sebagai bentuk ekspresi iman.

“Momentum pembangunan batu penjuru menara lonceng, menguatkan relasi kita dan mendengar suara Tuhan, membuka telinga dan hati dalam meresponi panggilannya,” tandas Papilaya.

Sekedar tahu, akta peletakan batu penjuru pembangunan menara lonceng gereja Ebenhaezer, diawali dengan ibadah yang dipimpin oleh Sekretaris MPK Pulau Ambon Timur,Pdt. Feby Songotnguan.

Kegiatan ibadah jemaat turut dihadiri Pimpinan OPD, saniri negeri, penjabat kepala pemerintahan Negeri Passo serta para donatur, dilaksanakan dalam protokol kesehatan. (IAN)

Comment