by

Warga Banggoi Tolak Penjualan Hutan Mangrove

beritakotaambon.com – Masyarakat adat Negeri Banggoi, Kecamatan Bula Barat, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), menolak penjualan hutan mangrove yang ada di desa tersebut.

Aksi penolakan warga ada itu dilakukan dengan menggelar demo di Kantor Kepolisian Resort (Polres), kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) dan Kantor Bupati SBT, Rabu (13/10).

Untuk itu demo yang dimotori Badan Koordinasi Daerah Persaudaraan Pemuda Etnis Nusantara (PENA) Kabupaten SBT itu, meminta agar semua unsur yang terlibat dalam penjualan hutang mangrove di Negeri Banggoi, diproses hukum, karena dinilai melanggar undang-undang.

Baca juga: SBT Siapkan Bonus Rp50 Juta Untuk Atlet Kempo PON

Selain itu, pendemo juga meminta Bupati SBT, Abdul Mukti Keliobas, mengevaluasi Kepala dinas Perikanan Ramli Sibualamo, Sekretaris Dinas Pemdes Bahrum Weulartafela, Kepala Bagian Hukum Setda SBT Mohtar Rumadan, Camat Bula Barat Ridwan Rumonin, Perwakilan UPTD Kehutanan Waebubi, dan Raja Negeri Banggoi, atas dugaan penjualan hutan Manggrove di Negeri Banggoi kepada PT. Samudera Biru Khatulistiwa.

Koordinator Lapangan (Korlap) aksi, Fahmi Kubal, dalam orasinya, mengatakan, masyarakat adat Banggoi menolak PT. Samudera Biru Khatulistiwa untuk melakukan pembelian hutan mangrove di negeri itu.

Fahmi mengungkapkan, luas wilayah hutan manggrove yang dijual mencapai 20 kilometer mengikuti bibir pantai dan lebar sekitar empat kilometer.

Baca juga: Penjabat Gunak SBT, Abaikan Panggilan Inspektorat

Alasan penolakan itu, kata Fahmi, karena terdapat perkampungan Tua Negeri Banggoi serta situs-situs sejarah peninggalan leluhur, makam para Raja Negeri Banggoi dan lahan perkebunan masyarakat adat, didalam kawasan hutan mangrove yang dijual itu.

“Kami menolak kehadiran perusahaan dan meminta pihak hukum menindaklanjuti pihak-pihak yang terlibat dalam penjualan hutang mangrove. Mangrove merupakan tumbuhan yang memiliki peran dan fungsi yang sangat penting bagi keberlangsungan kehidupan manusia dan ekosistem lainya,” tandas Fahmi.(SOF)

Comment