by

Warga Binaan Buru Produksi Minyak Kayu Putih

Ambon, BKA- Sejatinya, Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), akan diberikan pembinaan kepribadian dan kemandirian dalam keterampilan serta keimanan dalam beragama.

Hal itu yang dilakukan Lapas Kelas III Namlea, Kabupaten Buru, yang berada di Desa Jikumerasa, Kecamatan Liliali, Kabupaten Buru, Maluku.

Kalapas Kelas III Namlea, Ilham, mengungkapkan, terdapat 93 warga binaan di Lapas itu.

Selama menjadi WBP Lapas Kelas III Namlea, mereka mendapatkan pembinaan melalui beberapa kegiatan, baik kerohanian maupun bimbingan kerja.


“Dalam bimbingan kerja terutama itu penyulingan Minyak Kayu Putih. Cuma sementara ini lagi istirahat dulu. Terakhir bulan lalu ada yang berproses, itu yang pertama. Warga binaan kami pernah menghasilkan Minyak Kayu Putih,” kata Ilham, saat ditemui BeritaKota Ambon diruang kerjanya, Rabu (11/11).

Ilham menjelaskan, untuk warga binaan yang akan pergi mengambil daun Pohon Kayu Putih, haru melewati tahap sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) yang meninjau perilaku warga binaan tersebut, untuk memastikan mereka tidak kabur saat melakukan kegiatan itu.

“Setelah kami setujui bersama dan sudah memenuhi syarat, lalu kami hubungi pihak keluarga warga binaan, lalu kami membuat surat pernyataan, mengetahui kepala desa setempat bahwa kami akan mengadakan kegiatan pembinaan. Lalu kami dan warga binaan ke lokasi pengambilan daun Minyak Kayu Putih. Mereka tetap dikawal ketat,” ungkapnya.

Selain itu, Kalapas Namlea itu menambahkan, ada kegiatan lain yang juga diperuntukan bagi warga binaan. Yakni, bercocok tanam yang dilakukan setiap hari.

“Biasanya itu kalau pagi, mereka keluar dari kamar jam 08.30 sampai jam 11.30 WIT untuk menyiram tanaman, setelah itu masuk lagi. Setelah Shalat Ashar, mereka keluar lagi kembali untuk merawat tanaman dan mereka siram tanaman yang mereka tanam sampai pukul 18.00 WIT masuk kembali,” bebernya.

“Tapi sebelum itu, kami melakukan sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP), apakah orang sudah layak diluar tembok, tapi masih dalam lingkungan lapas. Dan hasil bercocok tanam dijual didepan lapas. Yang menjual warga binaan asimilasi. Tiga hari yang lalu, panen jagung. Hari Jumat lalu, ada juga panen semangka disini,” ungkapnya.

Lanjut Ilham, saat ini Lapas Kelas III Namlea sudah ditetapkan sebagai Lapas Pertanian. Maka langkah-langkah yang tempuh saat ini, melakukan kerja sama dengan pihak Badan Penyuluhan Pertanian (BPP) Kabupaten Buru untuk memberikan pembinaan terhadap masyarakat binaan.

“Jadi jadwal penyuluh setiap satu minggu sekali datang kesini untuk memberikan pemahaman kepada warga binaan, dalam upaya pembinaan cara bercocok tanam, cara pemberian pupuk dan perawatan. Seperti itu,” tuturnya.

Selain itu, untuk pembinaan rohani, untuk Islam dilakukan dua kali dalam seminggu, yakni, Selasa dan Kamis. Warga binaan beragama Kristen, setiap hari Minggu ada kerja sama dengan pihak Kepolisian untuk memberikan ceramah-ceramah.

Tak hanya itu, warga binaan juga membuat kreativitas dari bahan-bahan bekas yang didaur ulang, seperti, membuat cincin dari tempurung, gelang dan tas samping dari plastik.

Namun saat ini, pihaknya masih kekurangan tenaga pegawai dalam pengawasan dan yang punya keterampilan untuk membimbing kreativitas warga binaan.

“Harapan kami kedepannya, Insya Allah, mudah-mudahan SDM kami itu akan ditambah. Karena kami mau melakukan pembinaan, tetapi tenaga masih kurang jauh. Kedua, kami buat sarana dan prasarana, karena masih kurang untuk keterampilan,” pungkasnya. (MSR)

Comment