by

Watloly: Saya Berduka, Dipakai Untuk Kepentingan Politik


Kalwedo Jadi Jargon Politik

Ambon, BKA- Penggunaan kata Kalwedo sebagai jargon politik salah satu bakal calon kepala daerah di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), menuai kontroversi.

Bahkan penggunaan kata Kalwedo sebagai jargon politik dinilai tidak etis dan dapat melunturkan nilai-nilai budaya masyarakat di kabupaten MBD.

Salah satu tokoh masyarakat Kabupaten MBD, Max Saily, meminta pasangan bakal calon bupati dan wakil bupati, Nicolas Kilikily dan Desianus Orno, agar mengganti jargon politik mereka.

Menurutnya, Kalwedo merupakan semboyan orang MBD, yang tidak bisa digunakan untuk kepentingan pribadi, termasuk pada proses Pilkada Desember 2020 mendatang.

“Kalwedo itu sakral. Untuk itu, tidak bisa digunakan untuk kepentingan secara pribadi. Jargon yang digunakan itu kan untuk memikat hati masyarakat demi kekuasaan di MBD. Untuk itu, saya kira tidak bisa pakai jargon Kalwedo. Sebab dengan menggunakannya, orang yang bukan pendukung kedua pasangan itu, tidak bisa menggunakannya. Karena jika menggunakannya, diklaim sebagai pendukung pasangan itu. Padahal, dimana pun dan kapan pun, jika orang MBD saling bertemu, pasti sapaannya adalah Kalwedo. Jadi, kalau itu digunakan, maka saya pastikan budaya itu hilang. Hanya pendukung itu saja yang bisa gunakan sapaan Kalwedo. Ini yang harus diperhatikan. Dan kalau bisa, jargon itu diganti,” tegas Saily, Minggu (20/9).

Sementara itu, Akademi Unpatti Ambon asal Kabupaten MBD, Prof. Dr. Aholiab Watloly, menjelaskan, Kalwedo merupakan “jantung” orang MBD.

Kalwedo, katanya, merupakan budaya pemersatu. Rumah yang menyatukan seluruh masyarakat MBD. Bukan sebaliknya, digunakan untuk memecahbelah.

“Dalam menggunakannya (Kalwedo, red-), agar tidak boleh digunakan untuk hal-hal yang nantinya memecahbelakan kebersamaan sebagai orang basudara yang berdiam pada satu tanah yang dijanjikan oleh para leluhur,” terangnya.

Untuk itu, Watloly mengingatkan kepada semua masyarkat MBD, jangan menggunakan kata Kalwedo untuk kepentingan diri sendiri, karena itu merupakan kekuatan orang MBD.

“Dengan teriakan Kalwedo, dapat menguatkan orang lain atau bahkan menandakan kalau kita semua aman dan terberkati. Sehingga jika dipakai untuk kepentingan pribadi, sangat disayangkan. Sama halnya dengan tidak menghargai peninggalan budaya dari para leluhur,” ujarnya.

Sebagai intelektual MBD yang pernah meneliti kata Kalwedo, Watloly merasa berduka, karena kata sakral itu akan dijadikan sarana pemecah belah masyarakat dalam rangka kepentingan politik.

“Menurut saya, kelwedo itu rumah bersama, yang didalamnya juga milik mereka bertiga. Sebaiknya Kalwedo dijadikan sebagai kekuatan, agar merasa damai. Buat pesta itu ramai-ramai sebagai orang basudara di rumah Kalwedo. Tidak boleh ada yang menyangkal. Jangan gunakan Kalwedo untuk “mengutuk” orang lain karena berbeda partai. Itu tidak bisa. Karena kata Kalwedo itu pemersatu lewat tanah yang kita berpijak. Jadi sekali lagi, Kalwedo merupakan rumah bersama bagi ketiga calon ini. Hidup sama-sama dan siapa yang menang, dia yang diberkati di atas tanah ini. Tidak bisa kita meneriakan Kalwedo itu kalau untuk kepentingan pribadi. Artinya, bahwa dengan kata Kalwedo, kita merasa aman batin. Dimana saja, kita merasa kuat,” tuturnya.

Dia meminta kepada siapa pun, khusus ketiga pasangan bakal calon kepala daerah yang akan bertarung untuk merebut kekuasan di MBD, agar tidak salah dalam menggunakan kata Kalwedo.

Kawedo diharapkan menjadi kekuatan bersama. Sebab menurutnya, hanya Kalwedo yang mempersatukan. Jika tidak dipergunakan dengan baik, maka akan menjadi kutukan.

“Saya tidak ada di politik. Yang kedua, saya ini merupakan kakak buat ketiga calon. Sehingga saya selalu berdoa untuk mereka bertiga. Kalau siapa yang terpilih, itu harus bersyukur, karena Tuhan jawab saya punya doa. Jika mengucapkan kata Kalwedo, berarti dia mengakui dia punya saudara yang lain. Jangan bilang Kalwedo milik sendiri dan bukan milik orang lain. Semua orang harus bahagia ucapkan Kalwedo. Intinya, Kalwedo merupakan rumah untuk kita semua. Khusus mereka bertiga. Tidak bisa satu mengatakan Kalwedo dan yang lain di luar. Tidak bisa,” tandas Watloly.

Untuk diketahui, pada pelaksanaan Pilkada serentak di Kabupaten MBD pada 9 Desember 2020 nanti, terdapat tiga bakal calon. Yakni, Benyamin Thomas Noach dan Agusthinus Lekwardai Kilikily (Benyamin-Ari), Jhon Leunupun dan Dolfina Marcus (Jodoh) dan Nicolas Kilikily dan Desianus Orno (Kalwedo).(LAM)

Comment