by

Wilfried Zaha Jadi Pemain EPL Pertama Yang Tolak Berlutut Sebelum Sepak Mula

Di antara banyak kasus serupa, Zaha bahkan sempat mengalami pelecehan online dari seorang anak berusia 12 tahun di media sosial.

Winger Crystal Palace, Wilfried Zaha, memilih tetap berdiri di saat semua elemen pertandingan melakukan aksi berlutut sebelum sepak mula pada laga kontra West Bromwich.

Palace sukses mengalahkan West Brom dengan skor 1-0 pada pekan ke-28 Liga Primer Inggris di Selhurst Park, Sabtu (13/3).

Gol kemenangan sang tuan rumah dicetak oleh Luka Milivojevic melalui sepakan penalti pada menit ke-37.

Zaha kembali ke skuad utama setelah periode cedera dan hal itu memberikan kesempatan untuk berdiri sejak sepak mula.

Momen tidak biasa terjadi sebelum peluit pertama pertandingan, pemain asal Pantai Gading itu jadi satu-satunya yang berdiri di saat 21 pemain lainnya berlutut di lapangan untuk mendukung kampanye antirasialisme alias Black Lives Matter.

Ya, Zaha menjadi salah satu pemain kulit hitam di Liga Inggris dan yang pertama di EPL yang menolak gerakan tersebut.

“Keputusan saya untuk berdiri saat sepak mula telah diketahui publik dalam beberapa pekan terakhir,” ucap Zaha sebelum laga.

“Tidak ada yang benar atau salah, tapi saya merasa berlutut hanya sekadar menjadi bagian dari rutinitas sebelum pertandingan dan saat ini, tidak masalah apakah kami berlutut atau berdiri. Beberapa dari kami masih terus menerima pelecehan.”

“Saya tahu banyak cara dilakukan di oleh pihak Liga Primer dan otoritas lain untuk membuat perubahan, dan saya sangat menghormatinya, dan semua orang yang terlibat. Saya juga sepenuhnya menghormati rekan satu tim dan pemain di klub lain yang terus berlutut.”

“Sebagai masyarakat, saya merasa kita harus mendorong pendidikan yang lebih baik di sekolah, dan perusahaan media sosial harus mengambil tindakan lebih tegas terhadap orang-orang yang melecehkan orang lain secara online, bukan hanya kepada pesepakbola. Kini, saya ingin fokus pada sepakbola dan menikmati permainan.”

“Saya akan terus berdiri tegak,” pungkasnya.

Bulan lalu di sebuah podcast di Youtube, Zaha lebih dulu menegaskan sikap antipatinya dengan aksi ini.

“Mengapa saya harus berlutut kepada kalian untuk menunjukkan rasa peduli pada kami,” tutur Zaha.
Artikel dilanjutkan di bawah ini

“Saya merasa berlutut itu sikap yang merendahkan, seharusnya kita bersama berdiri tegak. Kedua orangtua saya pernah bilang agar saya harus bangga jadi warga berkulit hitam,” tambahnya.

Momentum untuk kembali menyuarakan anti-rasialisme kembali mengemuka pasca-pembunuhan berbau rasialisme terhadap George Floyd yang menimbulkan reaksi keras masyarakat di hampir semua negara bagian di Amerika Serikat, yang juga merembet ke negara-negara lain, termasuk aksi berlutut sebelum sepak mula di EPL sejak musim lalu.

Adapun dengan kemenangan tersebut, Palace naik ke urutan ke-11 klasemen sementara dengan koleksi 37 poin. Sedangkan West Brom masih mengendap di peringkat ke-19 dengan 18 angka. (INT)

Comment