by

Wujudul hilal dan Imkanur ru’yah

Oleh: Mardin Wali (Direktur Komunitas Cinta Qur’an (KCQ) Maluku)

Sebagian besar umat Islam sangat familiar dengan istilah Metode Hisab dan Ru’yat, dalam penentuan awal Ramadhan dan Syawal. Tapi sebaliknya, sangat tidak familiar dengan istilah Wujudul hilal dan Imkanur ru’yah.

Pemahaman terhadap kedua istilah ini yang akan bisa menjawab pertanyaan pada akhir tulisan kami sebelumnya, ‘Terkadang penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal yang dilakukan oleh Pemerintah (Kementerian Agama) sama dengan penetapan PP Muhammadiyah, tapi terkadang juga selisih satu hari. Kenapa itu bisa terjadi?”

Muhammadiyah menetapkan awal Ramadhan dan Syawal berdasarkan Wujudul hihah. Wujudul hilal artinya telah munculnya hilal (dengan beberapa kriteria) sebagai tanda bahwa bulan baru sudah dimulai.

Sedangkan Pemerintah menetapkan awal Ramadhan dan Syawal dengan menggunakan standar Imkanur ru’yah. Imkanur ru’yah maksudnya adalah posisi bulan yang memungkinkan untuk bisa dilihat.

Jadi kalau mau disederhanakan: Muhammadiyah puasa karena hilal sudah ada, sedangkan kita (yang ikut pemerintah) puasa karena hilal sudah terlihat.

Maka jika kemunculan hilal di malam pertama berada pada posisi atau situasi yang sangat memungkinkan untuk dilihat, maka kemungkinan besar waktu puasa kita bersamaan dengan Muhammadiyah. Sedangkan kalau saat kemunculan hilal, posisi atau situasinya tidak memungkinkan untuk dilihat, maka kemungkinan besar kita akan puasa satu hari setelah Muhammadiyah. Karena hanya ada dua kemungkinan saat munculnya hilal: pertama, hilal muncul dan terlihat, maka puasanya bersamaan seperti Ramadhan tahun ini. Kedua, hilal muncul tapi tidak terlihat, maka terjadi selisih satu hari.

Disebutkan bahwa ormas-ormas Islam yang lain, juga melakukan hisab seperti yang dilakukan oleh Muhammadiyah. Tapi mereka mendasarkan waktu puasa dan lebaran dengan ru’yatul hilal, karena ru’yatul hilal adalah bukti konkrit bahwa memang hilal sudah ada (terbukti bisa dilihat).

Bagaimana dengan Idul Fitri?
Muhammadiyah telah menetapkan 1 Syawal 1442 tanggal 13 Mei 2021. Itu berarti bahwa warga Muhammadiyah berpuasa selama 30 hari. Logika sederhana bagi kita orang awam: Jika kita puasa bersamaan dengan Muhammadiyah, dan jumlah hari puasa Muhammadiyah adalah 30 hari (berdasarkan penetapan 1 Syawal yang sudah dilakukan) maka dipastikan kita akan Idul Fitri bersamaan dengan Muhammadiyah pula. Kenapa? Karena secara hisab, hilal muncul pada tanggal 12 Mei, sehingga malam tanggal 13 Mei sudah masuk 1 Syawal. Sedangkan Pemerintah melalui Kementerian Agama akan melakukan ru’yatul hilal dan sidang Istbat untuk penetapan 1 Syawal, pada tanggal 29 Ramadhan bertepatan dengan 11 Mei sore/menjelang Maghrib. Jika hilal terlihat di malam itu, maka tanggal 12 Mei ditetapkan sebagai 1 Syawal. Sedangkan jika tidak terlihat hilal, maka 12 Mei ditetapkan 30 Ramadhan, dan 13 Mei sebagai 1 Syawal. Nah, karena berdasarkan hisab dan penetapan Muhammadiyah bahwa hilal mucul tanggal 12 Mei, maka mustahil hilal terlihat pada sore/maghrib tanggal 11 Mei. Kesamaan waktu Idul Fitri ini akan sangat memudahkan Panitia Masjid untuk melakukan fiksasi persiapan shalat Idul Fitri, karena sudah bisa dipastikan waktunya dari awal dengan logika sederhana di atas.

Sebaliknya, jika misalnya Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal tanggal 12 Mei, yang itu artinya puasa Ramadhan mereka 29 hari, maka ada dua kemungkinan hari Idul Fitri bagi pemerintah yang menggunakan ru’yatul hilal: tanggal 12 Syawal, kalau hilal terlihat, atau tanggal 13 Syawal kalau hilal tidak terlihat. Dan kalau kondisi seperti ini yang terjadi, seperti yang pernah beberapa kali terjadi di waktu-waktu dulu, maka Panitia Idul Fitri belum bisa membuat spanduk ajakan shalat Idul Fitri dengan mencantumkan hari dan tanggal masehi (miladiyah) yang defenitif, karena ada dua kemungkinan waktu.
Demikian, semoga mudah dipahami, menambah pengetahuan dan membawa manfaat.(*)

Comment